Pemerintah Indonesia sedang berupaya keras untuk memulihkan fasilitas kesehatan yang terdampak oleh bencana alam di tiga provinsi di Sumatra, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa upaya pemulihan ini dilakukan setelah banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November lalu.
Terdapat 41 rumah sakit dan 343 puskesmas yang sedang dalam proses pemulihan agar bisa beroperasi kembali. Fokus utama adalah puskesmas yang berfungsi sebagai posko kesehatan bagi para pengungsi yang terdampak bencana.
Budi menyatakan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan operasional fasilitas kesehatan tersebut agar masyarakat yang terdampak bisa segera mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan. Hal ini menjadi penting untuk memfasilitasi kebutuhan kesehatan masyarakat secara luas pasca bencana.
Dia menambahkan bahwa langkah-langkah perbaikan untuk pulangnya layanan kesehatan di sejumlah rumah sakit sedang dilakukan secara bertahap. Beberapa rumah sakit seperti RSUD Aceh Tamiang dan Langsa mulai pulih layanannya, memberikan harapan bagi masyarakat setempat.
Pemulihan Fasilitas Kesehatan di Aceh dan Sumatera Utara
Menurut data yang diperoleh Pusat Krisis Kesehatan, kondisi puskesmas yang belum beroperasi terbanyak terdapat di Aceh. Di wilayah ini, terdapat 39 puskesmas yang harus segera ditangani agar bisa beroperasi kembali.
Beberapa daerah, seperti Aceh Utara, mengalami dampak paling parah dengan 15 puskesmas belum operasional, sedangkan Aceh Tamiang mencatatkan 12 pustakemas yang belum dapat beroperasi. Meskipun demikian, total puskesmas di Aceh yang beroperasi penuh cukup baik, dengan 237 puskesmas beroperasi secara penuh.
Sementara itu, di Sumatera Utara, hanya ada empat puskesmas yang belum beroperasi, dua di antaranya terletak di Tapanuli Tengah dan satu di Langkat, sedangkan lebih dari 300 puskesmas lainnya telah beroperasi dengan normal.
Di Sumatera Barat, situasinya lebih baik, karena seluruh puskesmas telah beroperasi penuh pasca bencana. Pelayanan kesehatan di wilayah ini dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat yang menghadapi dampak bencana.
Dampak Bencana terhadap Masyarakat dan Pengungsi
Banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 25 November 2025 telah menimbulkan dampak yang sangat signifikan. Hampir seribu jiwa ditemukan meninggal dunia, dan ratusan orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, total jumlah pengungsi di wilayah yang terkena bencana mencapai angka satu juta.
Data terbaru menunjukkan bahwa banyak daerah yang masih terisolasi hingga kini, dan ini memperburuk situasi masyarakat. Menteri Kesehatan mencatat bahwa kebutuhan akan layanan kesehatan meningkat seiring dengan jumlah korban luka, baik yang ringan maupun berat mencapai hampir 9.000 orang.
Pemerintah berusaha mengatasi hal ini dengan memastikan ketersediaan listrik, oksigen, serta peralatan medis. Pembersihan rumah sakit dan puskesmas dari lumpur juga menjadi prioritas agar layanan dapat pulih secepatnya.
Budi menekankan pentingnya pengiriman bantuan berupa perlengkapan medis dan obat-obatan, serta ketersediaan tenaga medis yang memadai untuk melayani kebutuhan darurat. Tim medis juga perlu melaksanakan tugas dan rotasi secara berkala untuk memastikan pelayanan tetap tersedia.
Upaya Pemulihan dan Koordinasi Lintas Sektor
Melihat kondisi darurat tersebut, Pusat Krisis Kesehatan telah menghitung kebutuhan tenaga kesehatan. Diperlukan sekitar 709 relawan untuk mendukung operasional rumah sakit di enam kabupaten/kota yang terdampak.
Di lain sisi, sekitar 845 relawan lainnya diperlukan untuk mendukung puskesmas di wilayah yang sama. Mereka akan bertugas secara rotasi setiap dua minggu untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh pengungsi dan masyarakat yang terdampak bencana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana turut aktif dalam penanganan situasi ini dengan melaporkan data terkini. Hingga 11 Desember 2025, jumlah korban jiwa yang tercatat mencapai hampir 1.000 jiwa, dengan ratusan orang masih dalam pencarian.
Disampaikan juga bahwa total bantuan yang telah masuk ke wilayah-wilayah terdampak mencapai 498 ton, di mana sebagian besar telah terdistribusi melalui berbagai jalur. Upaya ini memperlihatkan solidaritas dan kepedulian terhadap mereka yang menderita akibat bencana.
Presiden Republik Indonesia juga berangkat ke Sumatera untuk meninjau langsung penanganan bencana. Dalam rangka rapat koordinasi penanganan bencana, beliau mengajak berbagai pihak untuk bersinergi dalam memberikan bantuan yang paling efektif kepada masyarakat yang membutuhkan.
