Air Keran Berbau Tidak Sedap, Warga India Hanya Mandi Lima Hari Sekali

Krisis air bersih yang melanda New Delhi, ibu kota India, menjadi perhatian global. Jutaan warga merasa terdampak akibat pencemaran berat di Sungai Yamuna, yang merupakan sumber utama pasokan air kota. Meskipun pihak berwenang mengklaim pasokan air telah dipulihkan, kenyataannya banyak warga yang masih mengeluhkan kualitas air yang keruh dan berbau tidak sedap.

Warga di berbagai penjuru, seperti yang diceritakan Ravinder Kumar dari Sharma Enclave, menghadapi kenyataan bahwa air bersih hanya mengalir sekali dalam tiga hari. Ketidakstabilan ini menyulitkan mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan diri karena air yang ada seringkali berwarna hitam dan kotor.

Masalah ini muncul sebagai hasil dari tingginya tingkat pencemaran amonia yang berasal dari limbah industri, merusak kualitas air yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat selama puluhan tahun. Sungai Yamuna, yang dianggap suci oleh jutaan orang, kini justru menyumbang sekitar 40% dari total kebutuhan air di New Delhi, tetapi kondisi airnya tidak lagi aman untuk digunakan.

Kondisi Air yang Memprihatinkan di New Delhi

Data menunjukkan bahwa lebih dari dua juta warga terpengaruh oleh krisis pasokan air. Walaupun pemerintah setempat mengklaim pasokan air telah kembali normal, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak daerah yang masih mengeluhkan air yang keruh dan berbau tidak sedap.

Kondisi ini sangat memprihatinkan dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Shashi Bala, salah seorang warga Sharma Enclave, mengungkapkan bahwa situasi ini berdampak besar pada kesehatan mereka. Dengan kondisi air yang buruk, mereka kesulitan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan.

Secara historis, Sungai Yamuna telah menjadi tulang punggung peradaban Delhi, tetapi saat ini hanya sekitar 2% aliran sungai yang aman untuk digunakan, menyebabkan 76% dari total polusi di sungai. Keberadaan lapisan busa putih beracun di permukaan sungai menjadi simbol nyata dari krisis yang sedang terjadi.

Upaya Pembersihan dan Tantangan yang Dihadapi

Sejumlah aktivis berusaha membersihkan bantaran Sungai Yamuna dari berbagai limbah, termasuk sampah plastik dan sisa-sisa ritual keagamaan. Namun, mereka menyadari bahwa upaya ini tidak cukup untuk mengatasi akar masalah pencemaran yang disebabkan oleh limbah industri dan pengelolaan kota yang buruk.

Pertumbuhan kota yang tidak terencana membuat banyak warga tinggal di permukiman tanpa akses ke sistem pipa dan pembuangan yang memadai. Limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga dan industri meresap ke tanah dan mencemari cadangan air tanah di daerah tersebut.

Pemerintah Delhi telah merencanakan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah hampir dua kali lipat dan membangun jaringan pembuangan pada tahun 2028. Tetapi bagi warga miskin yang terdampak, seperti Raja Kamat dari Raghubir Nagar, janji tersebut terasa sangat jauh dari kenyataan sehari-hari.

Keberlanjutan dan Harapan di Tengah Krisis Air

Raja Kamat mengungkapkan kesulitan yang mereka hadapi saat air tidak mengalir selama lima hari berturut-turut. Ketika pasokan air kembali, kualitasnya sangat buruk, hanya tersedia dalam waktu yang sangat terbatas. Hal ini menunjukkan kesenjangan besar antara janji pemerintah dan realitas yang dihadapi masyarakat.

Bagi banyak warga seperti Bhagwanti, seorang ibu rumah tangga berusia 70 tahun, keadaan menjadi semakin sulit. Ia menggambarkan bagaimana tidak adanya fasilitas pembersihan dan pasokan air yang memadai membuat hidup mereka terasa tidak berharga. Crisis air ini menggambarkan masalah yang lebih dalam dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayah urban.

Krisis air di New Delhi adalah cerminan dari tantangan yang lebih besar pada sistem pengelolaan air dan limbah di kawasan urban. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk memastikan keberlanjutan pasokan air yang bersih dan aman bagi semua orang.

Related posts