Banjir Setinggi 1 Meter di Tigaraksa Tangerang, Akses Warga Terputus

Luapan aliran Sungai Cimanceri telah menyebabkan bencana banjir di Desa Pasir Bolang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Pada hari Jumat, 30 Januari, ketinggian air mencapai antara 30 sentimeter hingga satu meter, memutus akses jalan utama warga setempat.

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa genangan air melanda jalan Desa Pasir Bolang sepanjang sekitar 500 meter, termasuk kolong Jalan Tol Tangerang-Merak. Dampak dari bencana ini juga menggenangi puluhan rumah warga di sekitar area terdampak, yang menyebabkan situasi semakin serius.

Keadaan ini memperburuk aktivitas sehari-hari masyarakat yang terpaksa terjang badai hujan. Dua perahu telah disiapkan untuk membantu mobilitas warga yang berusaha melintasi jalan yang terendam air, menunjukkan upaya lokal dalam mengatasi kesulitan tersebut.

Dampak Banjir Terhadap Kehidupan Warga Desa Pasir Bolang

Banjir ini membuat banyak warga terpaksa menghentikan aktivitas sehari-hari dan mengalami keterlambatan dalam menjalankan pekerjaan. Seorang pekerja bernama Khoiriyah mengungkapkan, “Ini jalan yang mengarah ke Tigaraksa terputus, akibat banjir ini saya berangkat kerja selalu telat.”

Kondisi jalan yang terputus mengganggu rutinitas masyarakat yang bergantung pada akses transportasi tersebut. Menurut Maman, seorang warga desa, Desa Pasir Bolang memang dikenal sebagai wilayah yang rawan banjir dan telah menghadapi situasi yang serupa sebelumnya.

Berdasarkan keterangannya, meskipun banjir sempat surut dalam beberapa hari terakhir, kejadian bencana ini kembali terjadi malam sebelumnya. “Banjir minggu lalu sudah surut, tapi semalam naik lagi,” ujar Maman menjelaskan tentang siklus bencana yang terus berlangsung.

Penyebab Utama Banjir di Wilayah Tersebut

Warga mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan banjir di desanya. Menurut Maman, sebanyak 28 rumah terancam, dan total 105 jiwa dari 35 kepala keluarga terkena dampak dari luapan Sungai Cimanceri yang deras.

Ia berpendapat bahwa pembangunan yang tidak terkendali di kawasan sekitar berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko banjir ini. “Ya karena pembangunan-pembangunan penyebabnya. Lahan yang tadinya bekas, sekarang diurug,” jelasnya merujuk pada alih fungsi lahan yang mengurangi lahan penyerapan air.

Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga ekosistem sungai dan lahan resapan air. Menanggapi situasi ini, Maman menginginkan adanya solusi dari pemerintah, “Intinya, warga udah enggak pengen kebanjiran lagi,” tegasnya.

Upaya Penanganan dan Solusi Jangka Panjang

Di tengah kesulitan, masyarakat berharap ada langkah konkrit dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir yang terus berulang. Penyempitan aliran anak Sungai Cimanceri dinilai sebagai salah satu penyebab utama, sehingga mendesak adanya perbaikan infrastruktur yang lebih baik.

Pemerintah setempat perlu memperhatikan masukan dari warga dan melakukan evaluasi menyeluruh terkait penggunaan lahan. Upaya rehabilitasi lahan dan pengelolaan sungai yang baik bisa mengurangi risiko banjir di masa mendatang.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pemeliharaan lingkungan juga diperlukan untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Dengan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah, diharapkan dapat tercipta solusi yang efektif untuk mengatasi masalah banjir di Desa Pasir Bolang.

Related posts