Kritik Sosial Anak Muda Tidak Selalu Berarti Depresi

Laporan terbaru tentang kesehatan mental anak dan remaja telah menarik perhatian publik, terutama terkait dengan tingginya gejala depresi dan kecemasan di kalangan mereka. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hasil ini harus dibaca sebagai peringatan dini, bukan sebuah vonis gangguan mental yang merata.

Psikolog anak dan keluarga, Astrid W.E.N., M.Psi mengingatkan bahwa peningkatan gejala kesehatan mental ini tidak terlepas dari dampak jangka panjang pandemi Covid-19. Menurutnya, pandemik ini meninggalkan efek psikologis yang belum sepenuhnya pulih, terutama bagi anak dan remaja yang berada dalam fase perkembangan emosi dan sosial yang krusial.

“Dampak dari pandemi tidak berhenti saat status darurat dicabut. Ada efek jangka panjang yang dapat berlangsung bertahun-tahun, dan ini sangat terasa pada anak dan remaja,” ujar Astrid pada sebuah kesempatan.

Perubahan Karakter Generasi Muda dan Tingkat Kesadaran Kesehatan Mental

Astrid juga mencatat adanya perubahan signifikan dalam karakter generasi muda saat ini. Generasi Z dan Generasi Alpha menunjukkan tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental serta kualitas hidup. Mereka lebih mampu menamai dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan dibandingkan generasi sebelumnya.

Media sosial berperan besar dalam hal ini, menjadi ruang utama bagi mereka untuk berekspresi. Akibatnya, isu-isu yang sebelumnya tersembunyi kini lebih terlihat dan terdengar di permukaan, menjadikan gejala psikologis terasa meningkat, meski tidak selalu berarti adanya lonjakan gangguan mental klinis.

“Hal yang sering terlewatkan adalah bahwa gejala tidak sama dengan diagnosis. Sebuah gejala tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami depresi atau gangguan kecemasan,” tambah Astrid.

Proses Diagnosis Psikologis yang Mendalam

Astrid menjelaskan bahwa diagnosis psikologis memerlukan asesmen yang mendalam, memenuhi kriteria tertentu, serta pemantauan dari waktu ke waktu. Proses skrining ini hanya berfungsi sebagai langkah awal dan bukan penentu diagnosis.

“Skrining tidak bisa menggantikan proses diagnosis yang membutuhkan pemahaman komprehensif. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menilai kesehatan mental seseorang,” ujarnya tegas.

Data yang menunjukkan tingginya gejala kesehatan mental seharusnya menjadi sinyal untuk memperkuat sistem dukungan, bukan untuk memicu stigma baru di masyarakat. Hal ini penting untuk dipahami oleh orang dewasa dan pembuat kebijakan.

Urgensi dan Kesehatan Mental: Menyediakan Ruang Dialog yang Aman

Astrid menyoroti perlunya ruang dialog yang aman bagi anak dan remaja. Mereka perlu memiliki literasi kesehatan mental yang cukup serta dukungan yang responsif untuk menyalurkan keresahan mereka secara sehat. Ini akan membantu mereka untuk tidak merasa terasing atau dihakimi.

“Gejala yang meningkat adalah sinyal bahwa kita harus lebih serius mendengarkan dan memahami kebutuhan psikologis dari generasi muda. Kita tidak bisa serta-merta menghakimi mereka sebagai ‘sakit’ hanya karena mereka mengalami gejala,” kata Astrid.

Dia juga menekankan pentingnya untuk tidak menganggap ungkapan kekecewaan sosial sebagai tanda depresi. Menurutnya, ekspresi semacam itu bisa jadi cerminan dari stres, frustrasi, atau kekecewaan terhadap keadaan sosial saat ini.

Generasi muda hari ini memang lebih vokal dan kritis. Mereka lebih peduli terhadap masa depan dan isu keadilan dibandingkan generasi sebelumnya. Ini harus dipahami sebagai bagian dari perkembangan mereka, bukan sebagai tanda masalah mental.

Dengan semua informasi ini, penting bagi kita untuk mengedukasi masyarakat tentang perbedaan antara gejala kesehatan mental dan diagnosis klinis. Hanya dengan memahami konteks dan kebutuhan generasi muda, kita dapat memberikan dukungan yang mereka perlukan tanpa menambah stigma yang ada.

Related posts