Mengapa Orang Barat Menggunakan Tisu untuk Cebok Bukan Air? Ini Penjelasannya

Perbedaan cara membersihkan diri setelah buang air besar merupakan topik menarik yang sering dibahas dalam konteks lintas budaya. Di satu sisi, masyarakat di negara-negara Timur cenderung menggunakan air, sementara di sisi lain, masyarakat Barat lebih familiar dengan penggunaan tisu toilet.

Kebiasaan ini, meskipun terkesan sepele, sebenarnya berakar dari sejarah dan kondisi budaya yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Dengan mengenali perbedaan ini, kita dapat memahami lebih dalam bagaimana faktor lingkungan dan tradisi mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.

Pemilihan media untuk membuang kotoran sangat bervariasi sesuai dengan adat lokal dan kondisi geografis. Misalnya, di beberapa tempat, orang menggunakan dedaunan, rumput, batu, atau bahkan tangan dalam tradisi mereka. Setiap kebiasaan tersebut mencerminkan filosofi hidup masyarakat setempat yang terjalin dalam budayanya.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat Romawi pada abad ke-6 SM menggunakan batu sebagai alat untuk membersihkan diri. Di sisi lain, di Timur Tengah, penggunaan air sangat umum, sering kali dikaitkan dengan ajaran keagamaan yang mengatur kebersihan.

Dalam sebuah studi berjudul “Toilet hygiene in the classical era” yang diterbitkan pada tahun 2012, terungkap bahwa penggunaan tisu toilet pertama kali tercipta di Cina, jauh sebelum dikenal di negara Barat. Pengembangan tisu ini merupakan langkah maju dari kertas yang juga berasal dari negeri tersebut.

Sejarah Dan Evolusi Penggunaan Tisu Toilet

Jejak awal tisu toilet di dunia Barat tercatat pada abad ke-16, ketika sastrawan Perancis, Francois Rabelais, pertama kali menyebutkannya. Dalam pandangannya, tisu tidak efektif sebagai alat untuk membersihkan kotoran, meskipun tetap digunakan secara luas.

Meski dinyatakan tidak efisien, tisu toilet tetap bertahan sebagai pilihan di kalangan masyarakat Barat. Salah satu alasan utamanya adalah kondisi iklim. Di daerah dengan suhu dingin, orang lebih enggan menggunakan air untuk membersihkan diri, baik saat mandi maupun setelah pergi ke toilet.

Di daerah tropis, sebaliknya, masyarakat tidak merasa risih untuk bersentuhan dengan air. Air menjadi pelengkap yang seharusnya digunakan untuk mencuci kotoran, dan tidak jarang, seseorang merasa tidak nyaman jika tidak melakukannya.

Faktor Iklim Dan Pola Makan yang Mempengaruhi Perilaku Cebok

Selanjutnya, perbedaan budaya ini tidak hanya dipengaruhi oleh iklim, tetapi juga terkait dengan pola konsumsi makanan. Masyarakat di Eropa dan Amerika, yang cenderung mengonsumsi makanan rendah serat, menghasilkan kotoran yang lebih sedikit dan watak yang lebih padat. Hal ini menyebabkan mereka lebih memilih tisu sebagai sarana pembersih.

Sementara itu, masyarakat di Asia dan Afrika, serta beberapa negara Eropa lainnya, biasanya mengonsumsi makanan kaya serat. Akibatnya, mereka menghasilkan kotoran yang lebih banyak dan mengandung lebih banyak air, mendorong mereka untuk menggunakan air sebagai alternatif yang lebih baik untuk membersihkan diri.

Riset ilmiah menunjukkan bahwa menggunakan air untuk cebok lebih efektif dibandingkan tisu. Penggunaan air dapat lebih maksimal dalam menghilangkan bakteri atau kuman sehingga menjamin kebersihan yang lebih baik. Hal ini menyiratkan bahwa, meskipun tisu memiliki penggemar, metode dengan air memiliki keunggulan dari segi kesehatan.

Tradisi dan Kebudayaan dalam Kebersihan Pribadi

Walaupun menggunakan air terbukti lebih bersih, penggunaan tisu toilet telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya di banyak negara non-tropis. Kebiasaan ini telah mengakar dalam generasi yang berbeda dan sulit untuk diubah.

Faktor budayalah yang menjadikan penggunaan tisu toilet mendominasi di tengah masyarakat Barat. Seiring berjalannya waktu, pabrik-pabrik tisu terus bermunculan untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat, terutama setelah inovasi tisu gulung pada akhir abad ke-19.

Secara keseluruhan, perdebatan mengenai cara yang paling tepat untuk cebok mungkin tidak akan pernah usai. Meskipun ada perbedaan yang jelas, baik penggunaan air maupun tisu memiliki kelebihan masing-masing dan tergantung pada kenyamanan serta tradisi masyarakat yang melakukannya.

Related posts