Puluhan Pasien Klinik Tradisional Terjebak Banjir di Serang

Pada hari Minggu yang kelam, banjir melanda Kampung Polokiong di Desa Baros, Kabupaten Serang, menyebabkan sepuluh pasien pengobatan tradisional terjebak dalam kondisi yang sangat berisiko. Pemilik klinik, Hendri, melaporkan bahwa hujan lebat yang berlangsung sejak pagi hari menjadi penyebab utama bencana ini, yang mengakibatkan air mencapai ketinggian lutut orang dewasa. Kondisi jalan yang terendam air membuat evakuasi menjadi sangat sulit.

Hendri menggambarkan situasi di kliniknya, di mana 20 pasien yang sedang menjalani pengobatan tidak dapat keluar dan terjebak dalam genangan air. Dengan harapan akan bantuan segera dari otoritas setempat, dia menyatakan bahwa belum ada respon atau bantuan yang diterima hingga saat ini.

Menurut Hendri, genangan air yang dibiarkan terlalu lama disebabkan oleh kinerja sistem drainase yang buruk. Kontur tanah yang lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya menyebabkan air hujan menggenangi pemukiman dan menambah kesulitan bagi para penghuninya untuk beraktivitas sehari-hari.

Analisis Penyebab Banjir di Kampung Polokiong, Desa Baros

Penyebab utama banjir di Kampung Polokiong adalah kombinasi dari intensitas hujan yang tinggi dan infrastruktur drainase yang tidak memadai. Hendri menjelaskan bahwa air mengalir dari arah Pasar Baros melalui saluran gorong-gorong, yang mendesak untuk diperbaiki. Hal ini menjadi tantangan besar bagi warga yang tinggal di daerah yang lebih rendah tersebut.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan bahwa dampak banjir sangat signifikan. Di Kampung Polokiong, 33 rumah terendam, mempengaruhi 58 kepala keluarga atau sekitar 174 jiwa. Pengabaian infrastruktur drainase jelas menjadi masalah yang perlu diatasi segera agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Lebih jauh lagi, fasilitas umum seperti Kantor Desa Baros juga terkena dampak. Dalam hal ini, terdapat tujuh lansia dan 24 anak-anak yang terdampak oleh kondisi ini, menunjukkan bahwa kenaikan air bukan hanya merugikan individu, tetapi juga mengganggu layanan masyarakat yang vital.

Dampak Sosial dan Ekonomi dari Banjir

Dampak sosial dari banjir ini sangat terasa di kalangan masyarakat, especialmente bagi mereka yang bergantung pada pengobatan tradisional. Banyak pasien yang tidak dapat kembali ke rumah atau melanjutkan kegiatan mereka. Situasi ini juga menciptakan ketegangan emosional dan psikologis bagi orang-orang yang terjebak di dalam genangan air.

Dari segi ekonomi, banyak pembatasan yang terjadi akibat banjir ini. Para petani dan pedagang yang biasa beraktivitas di wilayah tersebut akan mengalami kerugian signifikan. Kegiatan sehari-hari mereka terhenti, dan kebutuhan akan pangan dan sumber daya lainnya pun menemui kendala.

Lebih lanjut, dampak terhadap kesehatan masyarakat bisa menjadi lonjakan risiko penyakit yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi. Kesehatan jiwa warga pun menjadi sorotan, di mana stres dan kecemasan meningkat akibat tidak bisa beraktivitas seperti biasa.

Upaya Penanganan yang Perlu Dilakukan

Pemerintah daerah perlu bertindak cepat untuk melakukan evakuasi dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga yang terdampak. Beberapa bentuk bantuan seperti makanan, air bersih, dan perawatan kesehatan mendesak untuk segera dikirim ke lokasi yang terkena dampak.

Selain itu, penilaian mendalam terhadap infrastruktur drainase perlu dilakukan agar solusi jangka panjang dapat diterapkan. Melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan perbaikan infrastruktur menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa depan.

Kolaborasi antara berbagai instansi pemerintah dan organisasi non-pemerintah juga sangat penting. Mereka dapat bersama-sama mendesain program peningkatan kesiapsiagaan bencana yang melibatkan masyarakat, agar mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi lagi.

Dalam mengatasi isu lingkungan, pemerintah perlu mempertimbangkan aspek perubahan iklim yang mungkin memperburuk kondisi cuaca ekstrem. Kebijakan untuk pengelolaan air dan pemulihan lingkungan harus menjadi prioritas dalam program pembangunan daerah.

Related posts