Film “Malam 3 Yasinan” yang disutradarai oleh Yannie Sukarya telah menarik perhatian banyak penonton. Dengan Shalom Razade sebagai pemeran utama, film horor ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 8 Januari 2026. Keberadaan Shalom dalam film ini memicu pro dan kontra, khususnya karena statusnya sebagai anak dari salah satu produser, Wulan Guritno.
Meski ada suara skeptis mengenai pemilihan pemeran utama, Wulan Guritno menegaskan bahwa anaknya telah menjalani proses audisi yang ketat dan profesional. Hal ini menunjukkan bahwa keputusannya tidak semata-mata karena hubungan darah, tetapi berdasarkan kemampuan akting yang nampak saat audisi.
Yannie Sukarya sebagai sutradara memiliki kebebasan penuh dalam membangun karakter sesuai naskah yang ditulis oleh Helfi Kardit dan tim. Wulan Guritno yakin bahwa pilihan sutradara untuk menggandeng Shalom sebagai pemeran utama adalah keputusan yang tepat, mengingat kecocokan karakter yang diperlukan untuk menjalani peran tersebut.
Audisi yang Ketat dan Profesional dalam Proses Casting
Proses casting dilakukan di kantor HelRoad Films tanpa melibatkan rumah produksi Wulan Guritno. Hal ini menunjukkan komitmen untuk menjaga objektivitas dan profesionalisme dalam pemilihan pemain. Wulan menyatakan bahwa dia bahkan menawarkan bantuan kepada Yannie jika perlu menghubungi aktor-aktor lain untuk peran lain dalam film.
Wulan juga menghindari campur tangan dalam keputusan sutradara dan tim penata peran. Saat hasil audisi diumumkan, Wulan terkejut mengetahui bahwa Shalom terpilih menjadi pemeran utama, menunjukkan bahwa keputusan itu telah melalui proses yang sangat mendalam.
Yannie Sukarya mempresentasikan aktor yang telah lolos audisi, dan saat itulah Wulan menyaksikan video casting Shalom. Menghadapi kenyataan bahwa anaknya terpilih, Wulan terkejut dan merasakan campur aduk berbagai perasaan. Ini menunjukkan bahwa proses pemilihan tidak hanya mempertimbangkan kedekatan pribadi, tetapi lebih pada kualitas dan kesesuaian karakter.
Peran Ganda Shalom di Film Horor ini
Shalom Razade mendapatkan kesempatan untuk memerankan dua karakter, Samira dan Sara, yang memiliki hubungan yang sangat kompleks. Dalam film, Samira harus menghadapi kabar mengejutkan tentang kematian saudara kembarnya, Sara, yang menyebabkan banyak konflik emosional. Hal ini menunjukkan kedalaman karakter yang harus diperankan oleh Shalom.
Karakter Samira menggambarkan seorang perempuan yang terasing dari keluarganya, merasa tertekan oleh ekspektasi yang ada. Di sisi lain, Sara berperan sebagai jembatan yang menghubungkan keluarga besar mereka, menciptakan ketegangan yang memperkuat cerita. Shalom mengungkapkan bahwa perannya cukup menantang dan membutuhkan kedalaman emosional yang tinggi.
Shalom menyatakan tidak mengetahui bahwa proyek ini adalah film yang diproduksi oleh ibunya hingga proses casting berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa dia berusaha untuk membangun karirnya secara mandiri tanpa embel-embel sebagai “anak produser” di dunia yang kompetitif ini.
Dinamisnya Hubungan antara Ibu dan Anak di Lokasi Syuting
Selama proses syuting film “Malam 3 Yasinan,” Wulan dan Shalom menempatkan profesionalisme di atas hubungan pribadi mereka. Keduanya seringkali bertindak sebagai profesional, tanpa merujuk pada hubungan ibu dan anak. Mereka berusaha menciptakan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan.
Dari sudut pandang Shalom, lokasi syuting menjadi tempat yang menyenangkan dan penuh dengan jajanan, yang biasanya membuat suasana lebih ringan. Keduanya tampak saling mendukung dalam proses pembuatan film, menunjukkan bahwa profesionalisme masih bisa diimbangi dengan suasana kerja yang akrab.
Wulan mengungkapkan bahwa mereka tidak membedakan antara posisi aktris dan produser di saat kerja. Hal ini tentunya menciptakan pengalaman berharga dan kedekatan yang lebih dalam, sekaligus menegaskan keterpisahan antara urusan kerja dan hubungan keluarga.
Pentingnya Kualitas Cerita dalam Film Horor
Film horor selalu menjadi genre yang menarik untuk ditonton, terutama di kalangan penonton Indonesia. “Malam 3 Yasinan” berusaha menawarkan alur cerita yang bukan hanya menakutkan, tetapi juga menggugah emosi. Penggabungan tema kekerabatan dengan sentuhan horor menjadikan film ini berbeda dari yang lain.
Dalam waktu dekat, film ini diharapkan dapat memberikan pengalaman menonton yang mendalam dan melibatkan perasaan penonton. Wulan dan Yannie berharap film ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi para penontonnya.
Dari perspektif Shalom, film horor ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan bakat sebagai aktris muda. Dia jadi lebih memahami tantangan dalam menghidupkan karakter yang kompleks dan merasakan betapa pentingnya kolaborasi antara tim produksi untuk menciptakan karya yang berkualitas.
