Bule Eropa Berbondong-Bondong ke Indonesia untuk Wisata Mandi

Mandi adalah aktivitas yang sangat umum dan bahkan krusial bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia. Berbeda dengan kebiasaan di Eropa, di mana suhu yang sejuk membuat orang jarang mandi, di wilayah tropis, panas yang menyengat membuat mandi menjadi kebutuhan sehari-hari.

Di Eropa, banyak individu tidak merasa perlu mandi setiap hari, sementara di negara-negara tropis, keringat yang mengucur deras akibat cuaca panas memaksa orang untuk lebih sering membersihkan diri. Namun, sejarah mencatat bahwa kebiasaan mandi ini pernah menjadi hal yang mengejutkan bagi para wisatawan Eropa yang berkunjung ke Hindia Belanda.

Pada masa lalu, mandi bahkan menjadi daya tarik tersendiri dalam industri pariwisata di daerah tersebut. Sejarawan Achmad Sunjayadi mengungkapkan kisah menarik tentang kebiasaan mandi melalui bukunya mengenai sejarah pariwisata yang berjudul Pariwisata di Hindia-Belanda 1891-1942.

Perbedaan Kebiasaan Mandi Antara Eropa dan Indonesia

Masyarakat Eropa, yang hidup dalam iklim empat musim, terbiasa dengan suhu yang dingin dan cenderung menghindari mandi terlalu sering. Mandi dianggap sebagai aktivitas yang dapat membuat tubuh semakin dingin, terutama saat cuaca sejuk. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia, di mana suhu panas menjadi jaminan untuk mandi secara teratur.

Ketika orang Eropa berkunjung ke Indonesia, mereka mendapati bahwa suhu di sana jauh lebih panas. Tak ada pilihan lain, mereka pun harus mandi agar merasa lebih nyaman. Apa yang dianggap sebagai rutinitas bagi warga lokal menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang tidak terbiasa.

Sunjayadi mencatat bahwa di masa itu, hotel-hotel di Jakarta tidak dilengkapi dengan fasilitas pendinginan udara. Pantai sepanjang 1861 menawarkan suasana yang asri dan sejuk, meski cuacanya tetap terasa panas. Dalam suasana tersebut, kebiasaan mandi menjadi penting untuk mengatasi rasa tidak nyaman akibat cuaca.

Proses Mandi yang Menjadi Daya Tarik Wisata

Saat berkunjung, para wisatawan Eropa beradaptasi dengan cara mandi yang diajarkan oleh penduduk setempat. Mereka belajar untuk mengguyurkan air dari ember ke atas kepala mereka, sebuah metode yang justru mengundang rasa ingin tahu. Aktivitas ini menjadi pengalaman yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga menarik bagi mereka.

Hotel de l’Univers yang terletak di kawasan Molenvliet, Batavia, memanfaatkan situasi ini dengan menawarkan paket mandi sebagai daya tarik wisata. Ini bukan sekadar mandi, tetapi meliputi serangkaian kegiatan yang menarik bagi para tamu. Mereka memanfaatkan antusiasme pengunjung untuk menarik lebih banyak bisnis.

Paket yang ditawarkan mencakup berbagai kegiatan, termasuk rijstaffel, sebuah paket makan siang khas. Setelah santap siang, para tamu diberikan waktu untuk beristirahat sebelum melanjutkan dengan aktivitas mandi yang ditunggu-tunggu.

Ritual Mandi di Hotel selama Masa Kolonial

Setelah makan siang, hotel menganjurkan para tamu untuk melakukan siesta, baik dengan tidur atau bersantai di kursi malas yang tersedia. Mereka diminta untuk tidak beraktivitas terlalu banyak di luar ruangan demi menjaga agar tetap nyaman dan terhindar dari sinar matahari yang menyengat.

Pada sore hari, sekitar pukul empat, tamu hotel disajikan teh yang disiapkan oleh babu-babu lokal. Momen ini menjadi lebih istimewa karena diikuti dengan ritual mandi di bak mandi yang disediakan hotel, yang diisi dengan air segar. Mandi ini pun menjadi penyegaran setelah seharian beraktivitas.

Tidak hanya sekadar aktivitas, pengalaman mandi ini menjadi bagian integral dari program paket wisata yang ditawarkan hotel, serta menambah kekayaan pengalaman para tamu yang berkunjung ke Hindia Belanda era kolonial.

Kebiasaan Mandi dalam Perspektif Budaya

Kebiasaan mandi di berbagai budaya mencerminkan cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan sekitar mereka. Bagi masyarakat Indonesia, mandi bukan hanya sekedar untuk kebersihan, tetapi juga ritual yang memiliki nilai sosial dan spiritual. Itulah sebabnya, mandi sering kali dipadukan dengan kegiatan lain yang memiliki makna khusus.

Sebaliknya, di Eropa, mandi tidak selalu diasosiasikan dengan kegiatan sosial. Hal ini menunjukkan bagaimana setiap budaya memiliki persepsi yang berbeda terhadap praktik mandi. Di Indonesia, mandi sering kali dilakukan bersama teman atau keluarga, menciptakan momen kebersamaan yang berharga.

Melihat kebiasaan mandi semacam ini menandakan bahwa setiap ritual memiliki konteks yang mempengaruhi cara orang menjalani kehidupannya. Di satu sisi, tradisi mandi di Eropa lebih memperhatikan kenyamanan individu, sementara di Indonesia lebih mengedepankan interaksi sosial.

Related posts