Sungai Suci Jadi Bencana, Warga India Mandi Setiap Lima Hari

Jakarta, Sungai Yamuna yang selama ini dianggap sebagai sungai suci oleh jutaan umat, kini beralih menjadi sumber ancaman bagi warga New Delhi. Pencemaran yang disebabkan oleh limbah industri mengakibatkan pasokan air bersih di ibu kota India ini terganggu, sehingga jutaan orang terpaksa menggunakan air keruh dan berbau tajam untuk kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah setempat mengatakan bahwa distribusi air telah kembali normal. Namun, banyak rakyat yang merasakan bahwa situasinya jauh dari memuaskan, terutama di sejumlah daerah yang sangat bergantung pada air dari sungai ini.

Di Sharma Enclave, contohnya, air bersih hanya mengalir sekali dalam tiga hari, dan itu pun hanya dalam waktu satu jam. Hal ini membuat kehidupan sehari-hari mereka sangat terhambat, apalagi dalam hal kebersihan dan kesehatan.

Peran Penting Sungai Yamuna dalam Kehidupan Warga New Delhi

Sungai Yamuna selama ini menyuplai sekitar 40% kebutuhan air bersih di New Delhi. Tanpa adanya aliran air yang memadai, kehidupan 20 juta penduduk menjadi terancam.

Namun, tingginya kandungan amonia hasil polusi membuat air tidak bisa diolah dengan aman. Hal ini tidak hanya berpotensi memicu masalah kesehatan, tetapi juga mengganggu kegiatan pertanian dan industri lokal.

Pemerintah telah mencatat bahwa setidaknya ada 43 kawasan di New Delhi yang terdampak masalah ini, dan sekitar 2 juta penduduk merasakan dampak langsung akibat gangguan ini. Kesulitan dalam mendapatkan air bersih memaksa warga untuk mencari alternatif, yang sering kali tidak aman bagi kesehatan.

Krisis Air Bersih yang Terus Berlanjut di Wilayah Terdampak

Walaupun pemerintah mengumumkan bahwa pasokan air telah kembali normal pada akhir Januari, kenyataannya tidak berjalan semulus yang diharapkan. Warga melaporkan bahwa air yang tersedia sering kali berwarna kuning dan memiliki bau menyengat.

Salah satu warga, Shashi Bala, mengungkapkan keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat yang semakin memburuk. Situasi ini bukan hanya menjadi masalah kebersihan, tetapi juga berpotensi meningkatkan penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar.

Dengan kandungan oksigen terlarut yang sering kali menurun hingga nol, berbagai bentuk kehidupan air pun terancam punah. Sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini hampir menjadi saluran limbah yang terabaikan.

Usaha Bersama untuk Mengatasi Permasalahan Air

Sejumlah aktivis masyarakat berupaya untuk melakukan pembersihan di sekitar bantaran sungai, mengangkat limbah yang berbahaya. Namun, mereka mengakui bahwa langkah-langkah ini hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar permasalahan yang seharusnya ditangani.

Pertumbuhan kota yang tidak terencana semakin memperburuk krisis. Banyak warga yang tinggal di permukiman illegal, di mana tidak ada jaringan pipa dan sistem pembuangan limbah yang memadai. Hal ini membuat limbah meresap ke tanah dan mencemari sumber daya air tanah yang ada.

Pemerintah Delhi bahkan telah berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas pengolahan limbah dalam beberapa tahun mendatang. Namun, banyak warga yang skeptis dan merasa bahwa janji-janji tersebut tidak akan segera terwujud.

Warga seperti Raja Kamat dari Raghubir Nagar melaporkan bahwa air bersih kadang mati total selama lima hari. Ketika akses air kembali datang, kualitasnya sangat buruk dan hanya tersedia dalam waktu yang sangat terbatas. Ini menjadi gambaran nyata dari perjalanan panjang yang harus dilalui untuk mendapatkan air bersih.
Bhagwanti, seorang wanita berusia 70 tahun, juga mengungkapkan rasa frustasinya atas ketidakpedulian pemerintah. Ia merasa bahwa yang terpenting bagi mereka adalah hidup dalam kondisi yang layak, namun kenyataannya sangat jauh dari itu.
Situasi ini jadi isyarat mendesak bagi semua pihak untuk segera mencari solusi nyata agar akses air bersih dapat dinikmati oleh seluruh warga, terutama mereka yang paling rentan. Tanpa tindakan yang tegas dan berkelanjutan, dampak krisis ini hanya akan semakin meluas dan mengancam masa depan generasi yang akan datang.

Related posts